Tembang – Alat Pendidikan Budaya Jawa
Semakin hari, penerapan budaya Jawa telihat semakin menurun., karena sebagian besar orang Jawa mulai meninggalkan tata cara Jawa yang diwariskan oleh leluhurnya. Untuk mengantisipasinya, penggalian budaya semestinya harus dimulai sejak dini, yaitu memulainya dari masa kanak-kanak. Namun, cara ini tidak mudah memerlukan kesadaran, sikap telaten, waktu yang cukup panjang, serta media yang tepat.
Salah satu media yang mudah, tanpa memerlukan sarana yang rumit adalah seni suara. Hampir setiap orang dapat melakukannya meskipun tidak sempurna. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, seni suara dikenal melalui tembang.
Tembang memang berasal dan kata kembang yang mempunyai persamaan makna dengan kata sekar, yang juga berarti “bunga”. Bunga adalah alat untuk mengungkapkan isi hati seseorang kepada orang lain yang mempunyai tempat spesial di hatinya. Oleh sebab itu, tembang digunakan juga untuk mengekspresikan perasaan atau hati seseorang.
Dalam dalam bahasa jawa, tembang juga bisa berarti “lagu”, yaitu ragam suara yang berirama, berupa rangkaian tangga nada yang tersusun secara urut dan harmonis sehingga menghasilkan bunyi-bunyian yang mengandung unsur-unsur keindahan atau estetik. Sebagian besar warisan budaya nenek moyang Jawa memang dikemas dalam bentuk tembang atau kidung . Namun, jika sang penulis tembang telah tiada sebelum sempat mentafsirkan, tembang seringkali memiliki banyak tafsiran yang berbeda.
Salah satu tembang yang dahulu digemari oleh anak-anak adalah Tembang Dolanan. Walaupun tembang dolanan seringkali digunakan untuk meninabobokan anak-anak, tembang dolanan adalah seni yang cukup menarik untuk dikaji. Di dalamnya terdapat misteri yang penting untuk kehidupan manusia, karena jenis tembang ini dapat membentuk keluhuran watak dan moral anak
Dalam serat Wedatama, Raden Mas Sudira atau yang lebih akrab dengan sebutan Gusti Pangeran Arya Mangkunegara Surakarta IV memang menyiratkan bahwa keindahan tembang dapat membentuk moral anak. Tembang Pangkur melukiskan hal ini melalui sebuah bait yang berbunyi :
Mingkar mingkuring angkara, akarana karenan mardi siwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartining ngelmu luhung, kang tumrap neng tanah Jawa, agama ageming aji.
Terjemahan secara bebasnya adalah : “Menghindarkan diri dari angkara. Apabila hendak mendidik sang putra. (sebaiknya), dikemas dalam keindahan syair. Dihias agar tampak indah. Supaya tujuan ilmu luhur ini tercapai. Kenyataannya, di tanah Jawa, agama dianut raja”.
Dan uraian tersebut, jelas sekali bahwa untuk mendidik seorang putra dibutuhkan kehalusan budi yang harus diformulasikan dalam bentuk kidung atau tembang (sinawung resmining kidung). Selain itu supaya anak didik tersebut dapat menguasai ilmu-ilmu luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang pada ratusan tahun silam (mrih kretarta pakartining ngelmu luhung). Dan kesemua itu adalah bagian dari budaya Jawa.
Sumber : parisada.org



numpang copas, mas….