Sejarah Gamelan Jawa

13/04/2010
By abrianto

Gamelan adalah seperangkat alat musik dengan nada pentatonis, yang terdiri dari : Kendang, Bonang, Bonang Penerus, Demung, Saron, Peking (Gamelan), Kenong & Kethuk, Slenthem, Gender, Gong, Gambang, Rebab,, Siter, Suling.

Komponen utama alat musik gamelan adalah : bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan

Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa “gamel” yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran “an” yang menjadikannya sebagai kata benda.  Sedangkan istilah gamelan mempunyai arti sebagai satu kesatuan alat musik yang dimainkan bersama.

Tidak ada kejelasan tentang sejarah terciptanya alat musik ini. Tetapi, gamelan diperkirakan lahir pada saat budaya luar dari Hindu – Budha  mendominasi Indonesia. Walaupun pada perkembangannya ada perbedaan dengan musik India, tetap ada beberapa ciri yang tidak hilang, salah satunya adalah cara “menyanyikan” lagunya. Penyanyi pria biasa disebut sebagai wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana.

Menurut mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka. Beliau adalah dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana yang berada di gunung Mahendra di daerah Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu).

Alat musik gamelan yang pertama kali diciptakan adalah “gong”, yang digunakan untuk memanggil para dewa. Setelah itu, untuk menyampaikan pesan khusus, Sang Hyang Guru kembali menciptakan beberapa peralatan lain seperti dua gong, sampai akhirnya terbentuklah seperangkat gamelan.

Pada jaman Majapahit, alat musik gamelan mengalami perkembangan yang sangat baik hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini dan tersebar di beberapa daerah seperti Bali, dan Sunda (Jawa Barat).

Bukti otentik pertama tentang keberadaan gamelan ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah yang berdiri sejak abad ke-8. Pada relief-nya terlihat beberapa peralatan seperti suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, termasuk sedikit gambaran tentang elemen alat musik logam. Perkembangan selanjutnya, gamelan dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang dan tarian. Sampai akhirnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.

Gamelan yang berkembang di Jawa Tengah, sedikit berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut apabila dibandingkan dengan Gamelan Bali yang rancak serta Gamelan Sunda yang mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Menurut beberapa penelitian, perbedaan itu adalah akibat dari pengungkapan terhadap pandangan hidup “orang jawa” pada umumnya.

Pandangan yang dimaksud adalah : sebagai orang jawa harus selalu “memelihara keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, serta keselarasan dalam berbicara dan bertindak”. Oleh sebab itu, “orang jawa” selalu menghindari ekspresi yang meledak-ledak serta selalu berusaha mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud paling nyata dalam musik gamelan adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang sangat kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu “sléndro”“pélog”,  ”Degung” (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan “madenda” (juga dikenal sebagai diatonis), sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.

  • Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu :  1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil.
  • Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu :  1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar.

Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yang terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.

.

Sumber :

  • wikipedia.org
  • yogyes.com
  • supriantoeko.ngeblogs.com
  • photobucket.com
  • ngeteh.files.wordpress.com
  • wacananusantara.org

Tags: , , ,

10 Responses to “ Sejarah Gamelan Jawa ”

  1. Kendang Jawa | Wonojoyo on 16/04/2010 at 12:29

    [...] Sejarah Gamelan Jawa [...]

  2. widi antoro on 13/06/2010 at 14:37

    Saya adalah orang jawa yang besar di sumatra. Menjelang pensiun ini, saya koq tiba tiba ingin sekali mempunyai peralatan gamelan dan belajar untuk bisa memainkan. Persoalannya adalah : 1. saya sementara ini hanya ingin mempunyai perangkat yang secukupnya yang dapat dipakai untuk rengeng rengeng mengiringi waranggana. 2. Ini berkaitan dengan keterbatasan ruang dirumah. 3. Bagaimana belajarnya, bagaimana mencari guru unt daerah Yogyakarta. 4. Apakah ada orang yang dapat menjual sebagian peralatan saja.

    Salam,
    Widi Antoro
    Yogyakarta

  3. Mr.HanzMoe on 24/08/2010 at 14:54

    maju teruzz budaya INDONESIA,,,jangan mau direbut oleh negara lain,,
    >>>MERDEKA<<<
    SALAM PRIKITIUW

  4. dian nuryadin on 10/12/2010 at 13:48

    buat bapak Widi Antoro Yogyakarta. apabila anda membutuhkan alat musik gamelan dan guru untuk pembelajaran. dapat hubungi kami. 08121546616

  5. rifah on 23/01/2011 at 16:59

    MAJU TERUS PANTANG MUNDUR…….
    INDONESIAKU MAKMUR RAKYATNYA MUJUR…
    GAMELAN JAWA JANGANLAH PUNAH…..
    PUNAHLAH SUDAH JAWA PUN MERANA..

  6. qinqin on 23/01/2011 at 20:14

    terima kasih atas infonya,mohon dikembangkan lagi

  7. Mega on 15/02/2011 at 19:13

    bisa tidak tolong dimuat tentang sejarah rebab dan tolong yang lengkap

  8. ndaru on 30/03/2011 at 07:42

    ..Senang sekali dengan adanya web ini jadi bisa belajar tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan jawa….mau bertanya sedikit dalam notasi pelog slendro ada tambahan tanda + itu artinya dalam jarak interval bagaimana…Terimakasih banyak.

  9. travelagentbali on 28/10/2011 at 21:45

    It is perfect time to make some plans for the future and it is time to be happy. I’ve learn this publish and if I could I wish to counsel you some attention-grabbing things or advice. Perhaps you can write next articles relating to this article. I desire to read more issues about it!

Leave a Reply